Selasa, 04 Oktober 2011

Ilmuwan Muda Penemu ‘Fisika Batik’

SHARE ON :

Hokky Situngkir menjadi salah satu penerima penghargaan Ahmad Bakrie Award 2011. Di usianya yang masih belia, Hokky Situngkir sudah menjadi ilmuwan muda. Temuannya yang paling top adalah ‘Fisika Batik’ yang mendapat apresiasi tokoh nasional dan ilmuwan.
Dalam ajang penghargaan Bakrie Award 2011 digelar di Ballroom Jakarta Theatre, Minggu (14/8), Hokky Situngkir menjadi penerima yang terakhir. Dia memperoleh hadiah khusus untuk ilmuwan muda berprestasi.
Hokky menerima penghargaan in karena dinilai telah melakukan banyak penelitian menarik. Bahan-bahan penelitiannya penting dan pendekatannya tidak tradisional. Ia memanfaatkan teknologi modern. 
Bersama Rolan Dahlan, ia menerbitkan buku Fisika Batik, yang menyorot unsur fraktal dalam motif-motif batik Nusantara. Ia juga mendirikan Indonesia Archipelago Cultural Initiatives (IACI) dan mewujudkan Ensiklopedi Budaya Nusantara.
Sekedar diketahui Ensiklopedi yang merupakan inisiatif IACI telah berhasil mengumpulkan 705 artefak budaya Indonesia sejak pertama kali dirilis April 2008. Inisiatif yang dilakukan Hokky dan beberapa rekannya ini dinilai sangat signifikan terlebih-lebih dengan adanya klaim-klaim kebudayaan Indonesia oleh negara-negara lain. Sebut saja kasus klaim batik oleh negara tetangga dekat Indonesia, Malaysia.
Tak hanya itu, di usianya yang setara dengan tersangka suap wisma atlet SEA Games M. Nazaruddin, Hokky juga telah menghasilkan lebih dari seratus makalah ilmiah. Hasil penelitiannya dimuat di berbagai makalah konferensi dan jurnal internasional bergengsi, di antaranya jurnal Physica A. Di dalam tulisannya di jurnal tersebut, Hokky membahas penggunaan persepsi jaring saraf buatan pada peta Poincare data keuangan.
Dalam jurnal internasional terpisah, Journal of Knowledge Management, pria berusia 33 tahun ini membahas evolusi sistem ekonomi. Karyanya juga dimuat di Journal of Social Complexity, Journal of Peace and Conflict Resolution, Journal of Literary Complexity Studies, Journal of Mathematics and Culture, serta berbagai proceedings konferensi dan jurnal internasional bergengsi lainnya. Sejumlah prestasi penelitian tersebut memberikan kesempatan kepadanya untuk tampil dan berbicara di berbagai konferensi ilmiah internasional.
Di usia 25 tahun, pria kelahiran Februari 1978 ini sudah mendapat kehormatan untuk berbicara di Applications of Physics in Financial Analysis untuk mempresentasikan karyanya dalam penggunaan persepsi jaring saraf buatan dalam analisis data keuangan.
Ia juga telah diundang untuk mempresentasikan karyanya dalam kajian studi pasar modal artifisial di New Economic Windows, sebuah pertemuan ekslusif yang diikuti sejumlah peraih nobel dan sangat menentukan dalam mengarahkan kurikulum ekonomi ke depan. Dan ini dilakukannya, pada saat usianya baru 27 tahun.
Dalam 2 tahun terakhir, Hokky telah mendapatkan 5 penghargaan, untuk karya yang berbeda dari Business Innovation Center bersama Kementerian Riset dan Teknologi Republik Indonesia. Hokky juga adalah pembimbing berprestasi bagi para peneliti belia, dalam aktivitasnya bersama Surya Research International dan Surya Institute.
Beberapa orang siswa binaannya mendapatkan medali emas di International Conference of Young Scientists (ICYS) dan First Step to Nobel Prize in Physics.
‘Fisika Batik’
Bersama dengan tim peneliti dari Bandung Fe Institute, Hokky Situngkir merampungkan buku ‘Fisika Batik’ yang banyak menuai pujian termasuk pakar fisika Indonesia, Prof Yohanes Surya.
Hokky mengatakan, Fisika Batik bisa menjelaskan, cara membaca pikiran para pembatik dilihat dari sudut pandang fisika.
“Teori fisika fraktal, mekanika statistik ketika dipakai untuk melihat batik keluarlah pola-pola yang unik dari batik, ada keteraturan-keteraturan yang diikuti oleh batik. Artinya, di samping berbagai filosofis ternyata ada aturan yang diikuti oleh pola-pola batik. Alasan inilah yang bisa menjelaskan kenapa batik itu punya pakem, corak, warna, dan didapat hanya melalui model-model fisika yang terbaru,” papar pria berkacamata ini.
Lebih lanjut Hokky memaparkan, para pembatik dapat semakin mengembangkan pola-pola dasar batik. “Kalau selama kita menggunakan model-model yang klasik, geometri atau matematika klasik, maka kita hanya akan melihat batik sebagai suatu ornamen saja. Tapi dengan adanya model fisika terbaru, kita bisa lihat ada sesuatu di balik terjadinya motif parang, mega mendung, dan lainnya,” tambahnya.
Tentang buku “Fisika Batik”, Hokky mengatakan dalam pengerjaannya menggunakan teknologi komputer untuk meniru cara berpikir batik sehingga dapat menggenerasi motif-motif batik agar tampak lebih baru.
“Saya berharap hadirnya buku ini bisa membangun pemahaman bahwa desain batik itu tak terbatas. Pemahaman ini bisa memberikan nilai lebih bagi kemajuan, kesejahteraan, karena orientasi pada pendidikan. Karena hanya dengan teknologi seperti inilah sebetulnya bangsa ini akan menikmati nilai lebih (added value). Ternyata hubungan antara fisika dengan batik sangat mendasar, meski dulu nenek moyang kita belum paham matematika,” tutur Hokky.
Hokky mengatakan, menyelami ribuan motif batik yang berada di pelosok Nusantara, menggugah pemikirannyauntuk menelusuri beragam keindahan dari berbagai motifnya.
Batik, kata Hokky, merupakan lukisan tentang alam dan dinamikanya. Berbeda dengan para pelukis naturalis yang melukis alam persis seperti apa yang dilihatnya, namun para pecinta batik melukis alam dari sisi yang lebih dalam.
Pencipta batik mencari pola dasar dari suatu fenomena yang dilihatnya. Kemudian dari pola dasar ini ditambah dengan beberapa aturan sederhana untuk menjadikannya sebuah lukisan batik yang sempurna.
Dalam sebuah diskusi beberapa waktu lalu, Sri Sultan Hamengku Buwono X yang juga bertindak pengisi antarmuka dari buku ini mengatakan, batik sebagai kekayaan bangsa sesungguhnya mengandung kekayaan intelektual dari para pembuatnya. “Ternyata hubungan antara fisika dengan batik sangat mendasar, meskipun dulu nenek moyang kita belum paham matematika,” ujar Sultan.
Berdasarkan perspektifnya sebagai orang Jawa, Sultan juga menyampaikan kegelisahannya akan perkembangan batik saat ini yang juga diklaim oleh negara lain.
Ia pun berharap temuan Fisika Batik yang telah dibukukan dapat membuat pelestarian batik lebih baik dari sebelumnya. “Kekayaan batik kita mencapai hingga 1.543 macam, namun yang terdaftar dalam HAKI (Hak atas Kekayaan Intelektual) baru sekira 300 jenis. Melalui riset dan buku semacam ini saya berharap agar pelestarian batik akan lebih baik melalui pengetahuan dan teknologi yang kita kuasai,” ujar Sri Sultan Hamengku Buwono X.
Bahkan tak hanya upaya melestarikan budaya bangsa, dengan kehadiran buku “Fisika Batik” ini diharapkan dapat menambah intelektual bangsa, menggali kekayaan yang luar biasa, dan menciptakan berbagai motif batik yang baru.
Sementara itu, Prof Yohanes Surya yang memberikan supervisinya untuk buku ini menyimpulkan bahwa batik pada dasarnya merupakan sebuah lukisan alam, tetapi disampaikan dalam bentuk yang berbeda.
“Ini adalah sebuah kemampuan luar biasa dari para leluhur kita. Batik yang diciptakan dengan peralatan sederhana itu mampu menerjemahkan keindahan alam dalam logika-logika fisika,” tegasnya.
Dengan banyaknya motif batik yang dimiliki Indonesia, dapat mengubah aturan dasar batik, maka akan tercipta ribuan atau bahkan miliaran motif batik yang baru,” kata fisikawan Prof Yohanes Surya. dirangkum dari beberapa sumber, faz

    Nama : Hokky Situngkir Tgl Lahir : 7 Februari 1978 Almamater : Department of Computational Sociology Bandung Fe Institute Hasil Karya :
    • Pendiri dan Peneliti di Bandung Fe Institute
    • Research Fellow di Surya Research International
    • Pendiri Indonesia Archipelago Cultural Initiatives
    • Editor Member Journal of Social Complexity
    Bidang Minat : Sociological Theories, Cultural Studies, Artificial Society, Socio-dynamical psychology, Behavioral Sciences, Agent-Based Programming, Philosophy of Science, Computational Finance. Penghargaan :
    • Business Innovation Center bersama Kementerian Riset dan Teknologi
    • Ahmad Bakrie Award 2011 
Sumber Surabaya Post

Comments with Facebook
0 Comments with Blogger
Facebook Comments by Media Blogger

0 comments: